Selasa, 04 Maret 2025

EDUKASI PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK)

 

A.    PENGERTIAN

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyakit gangguan jantung dan pembuluh darah, dimana terjadi penebalan pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan tersumbatnya dan menyempitnya pembuluh darah koroner yang mengakibatkan terganggunya aliran darah ke otot jantung, sehingga kurangnya aliran darah ke jantung yang mengakibatkaan terganggunya fungsi jantung. 

Perkembangan  plak  aterosklerotik  adalah  ciri khas  patofisiologi  PJK.  Plak  adalah  penumpukan lemak   yang   menyempit   pembuluh   darah   dan menghentikan  aliran  darah. Kadar   kolesterol   LDL   yang   relatif   tinggi hingga bertumpuk di dinding arteri menjadi pemicu tumbuhnya  plak  dan  dapat  mengganggu  aliran darah serta merusak pembuluh darah. Aliran darah yang tersumbat akan menghambat darah ke organ-organ   utama   sehingga   memunculkan   berbagai penyakit  seperti  Penyakit  koroner  arteri,  infark miokard, penyakit vaskuler Perifer, aneuresina dan kecelakaan cerebral vaskular (stroke)

Seiring  perkembangan  penyakit,  PJK juga memiliki jenis-jenis yang berbeda yaitu:

1.     Silent  Ischaemia  (Asimtotik), Silent ischemia  dapat  terjadi  akibat  kekurangan jumlah oksigen pada jantung yang bersifat sementara dan reversible

2.     Angina    Pectoris, terjadi akibat meningkatnya glikolisis anaerobik. Kondisi ini  menyebabkan ketidakseimbangan antara  suplaioksigen dan  kebutuhan  otot  jantung

3.     Infark Miocard Akut, Pada kondisi infark miocard  akut  terjadi  perubahan iskemia yaitu penurunan data kontraktil, penurunan pergerakan  abnormal,  perubahan  dilatasi dinding  ventrikel,

B.    FAKTOR FAKTOR RESIKO

PJK  dikarenakan  beberapa factor yaitu:

1.     Factor Riwayat keluarga

Orang yang memiliki riwayat keluarga terkena PJK memiliki risiko untuk kesempatan terkena PJK lebih besar daripada yang tidak memiliki riwayat keluarga. Pada keluarga yang masih memiliki hubungan sedarah (orangtua, paman, bibi) yang memiliki penyakit jantung maka untuk anak dan keponakannya akan memiliki kemungkinan 3-5 kali lebih besar untuk terkena PJK jika dibandingkan dengan yang tidak memiliki riwayat keluarga,

2.     Factor usia

Semakin tua seseorang maka semakin besar risiko terkena PJK dikarenakan ketahanan dinding vaskuler atau pembuluh darah semakin melemah sehingga mempermudah plak yang sudah ada bertambah parah. Proses degeneratif dan meningkatnya paparan agen berbahaya seperti kolesterol serta proses terjadinya aterosklerosis juga berperan penting seiring dengan bertambahnya usia.

3.     Factor jenis kelamin

Jenis kelamin laki-laki merupakan kelompok yang lebih berisiko mengalami penyakit jantung koroner, ditambah jika dihubungkan dengan pola hidup yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol dibanding dengan jenis kelamin perempuan yang jarang memiliki kebiasaan tersebut. laki-laki diperkirakan akan mengalami PJK 10 tahun lebih awal dibandingkan dengan perempuan. Perempuan yang masih menstruasi akan mendapatkan perlindungan dari hormon esterogen, namun kejadian PJK akan meningkat setelah menopause

4.     Factor hipertensi

Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan PJK karena kenaikan tekanan darah menyebabkan meningkatnya tekanan terhadap dinding arteri dan mengakibatkan kerusakan endotel yang dapat memicu aterosklerosis. Perubahan aterosklerosis pada dinding pembuluh darah menyebabkan kenaikan pembuluh darah sehingga terdapat sinergi antara tekanan darah dengan aterosklerosis. Akibat kerja jantung yang keras karena hipertensi adalah penebalan pada otot jantung kiri dan kondisi ini akan memperkecil rongga jantung untuk mempompa sehingga beban kerja jantung bertambah. Hipertensi merupakan faktor risiko untuk terkena PJK. Hal ini terjadi karena pembuluh darah mengalami penebalan dan penyempitan sehingga beban kerja jantung meningkat. Responden dapat mengurangi risiko untuk terkena hipertensi dengan cara mengatur pola makan, berolahraga, dan rutin dalam mengkonsumsi obat, serta rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah baik di rumah maupun fasilitas Kesehatan 

5.     Factor obesitas

Obesitas yang juga merupakan salah satu faktor penyebab PJK, dimana kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko terkena serangan jantung. Orang yang mengalami kegemukan diikuti dengan penimbunan lemak dan kolesterol dapat menyebabkan aterosklerosis dan thrombosis. Orang dengan obesitas juga berpotensi untuk memiliki peningkatan risiko hipertensi, memiliki kadar lipid tinggi (hiperlipidemia) dan berisiko berkembang menjadi DM.

6.     Factor diabetes

Secara teoritis, orang dengan diabetes mellitus cenderung lebih cepat mengalami degenerasi jaringan dan disfungsi dari endotel sehingga timbul proses penebalan membrane basalis dari kapiler dan pembuluh darah arteri koronaria sehingga terjadi penyempitan aliran darah ke jantung. Dengan adanya resistensi glukosa, maka glukosa dalam darah akan meningkat dan hal ini akan meningkatkan kekentalan darah. Kecenderungan untuk terjadinya aterosklerosis pun meningkat dan dapat mengakibatkan terjadinya penyakit jantung koroner

7.     Factor merokok

Rokok bisa menjadi penyebab sakit jantung terutama karena berbagai zat beracun yang terkandung di dalamnya. Ketika mengisap rokok, asapnya masuk ke dalam tubuh. Asap ini yang membawa zat-zat berbahaya tersebut. Di saat yang sama, merokok dapat meningkatkan detak jantung yang berarti jantung butuh lebih banyak oksigen untuk bekerja. Namun kebutuhan itu sulit tercukupi karena adanya zat – zat racun dari rokok yang terkandung di dalam darah . Jantung pun jadi berdetak lebih kencang untuk memompa darah yang mengandung oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, jantung mesti bekerja terlalu keras sehingga bisa mengalami gangguan dalam jangka waktu tertentu 

8.     Factor aktivitas

analisis data Riskesdas, menunjukkan individu yang rutin beraktivitas fisik cenderung memiliki risiko yang lebih rendah terhadap kejadian PJK, meskipun memiliki faktor risiko lainnya. Aktivitas fisik yang kurang dapat meningkatkan risiko 1,47 kali mengalami PJK dibanding dengan yang memiliki aktivitas fisik yang cukup. Aktivitas fisik dapat berfungsi sebagai bentuk pengendalian tingkat kolesterol, obesitas dan kadar gula dalam darah dan dapat menurunkan tekanan darah.

 

C.    TANDA DAN GEJALA

Gejala  sindrom  PJK  ini  antara  lain  adalah tekanan pada bagian dada seperti serangan jantung, sesak napas saat istirahat atau saat beraktivitas fisik ringan,     tiba-tiba     keluar     keringat     berlebih (berkeringat), muntah, mual, nyeri di bagian tubuh lain,  seperti  pegal-pegal,  lengan  kiri  atau  rahang, danhenti jantung mendadak (jantung). Gejala PJK cenderung terjadi pada pasien usia 40 tahun, namun saat ini tidak menutup kemungkinan dapat terjadi di usia  yang  lebih  muda.  Beberapa  gejala  klinis  lain PJK, antara lain:

1.    Merasakan nyeri dan tidak nyaman bagian dada, substernal, dada kiri hingga menjalar ke   leher,   bahu   kiri   serta   tangan   dan punggung.

2.     Merasakan  ada  tekanan,  remasan,  terbakar hingga tertusuk.

3.     Merasakan  keringat  dingin,  mual,  muntah, lemas pusing hingga pingsan.

4.     Merasakan secara tiba-tiba dengan kecepatan tinggi dan waktu bervariasi.

 

D.    KOMPLIKASI

Apabila tidak ditangani dengan baik, penderita PJK   dapat   berisiko   terjadi   komplikasi   lainnya seperti  gagal  jantung,  aritmia,  serangan  jantung, silent ischaemia,  angina  pectoris  serta  komplikasi pada infark miokard akut.

     Gagal  jantung  :    Bergantung  pada  bagian jantung  mana  yang  rusak,  jika  sisi  kanan jantung    terkena,    darah    terkumpul    di pembuluh  darah  yang  biasanya  membawa darah  dari  organ  dan  jaringan  kembali  ke jantung. Peningkatan tekanan pada pembuluh   darah   dapat   memaksa   cairan keluar  dari  pembuluh  darah  ke  jaringan  di sekitarnya.   Hal   ini   dapat   menyebabkan edema (pembengkakan) pada kaki, dan jika gagal jantung sudah lanjut, mungkin terjadi pembengkakan pada perut atau hati. Ketika gagal   jantung   mempengaruhi   sisi   kiri jantung, genangan darah di pembuluh darah yang  membawa  darah  dari  paru-paru.  Ini dapat  menyebabkan  sesak  napas,  terutama selama     aktivitas     yang     lebih     berat. Terkadang gagal jantung kiri dan kanan

   Detak  jantung  tidak  beraturan  (Aritmia)  : apabila  terjadi  gangguan  pada  oksienasi yang  tidak  adekuat  dapat  menyebabkan kerusakan  pada  bagian  jaringan  jantung yang  mengatur  detak  jantung.  hal  tersebut dapat   menyebabkan   terjadinya   aritmia, masalah irama jantung dapat menimbulkan jantung  berdebar  kencang,  kelelahan,  dan pusing.

      Serangan jantung : penyumbatan pada arteri koroner  dapat  menghambat  sebagian  otot jantung    dalam    pengambilan    oksigen sehingga oksigenasi tidak adekuat. apabila hal  ini  terjadi  secara  terus  menerus  atau berlangsung terlalu lama, dapat mengancam  jiwa  dikarenakan  bagian  otot jantung dapat mati.

 

E.    PENCEGAHAN

Pencegahan   dini   dapat   dilakukan   dengan menerapkan  gaya  hidup  yang  baik  seperti  tidak merokok, menjaga pola makan yang sehat, olahraga teratur,  kelola  stress  dan pemeriksaan  rutin.  selain itu,   pencegahan   dini   dapat   dilakukan   dengan berbagai   metode   perhitungan   risiko   penyakit kardiovaskular   seperti   skor   Framingham,   skor PROCAM dan risiko SCORE.

1.     Skor  Framingham : Penilaian  didasarkan  pada  jenis  kelamin, usia,  lipid  profil,  tekanan  darah  sistolik, hipertensi dalam  perawatan,  merokok  dan status diabetes

2.     Skor    PROCAM: menggunakan  8  indikasi dalam pemeriksaannya yaitu, usia, kolestrol LDL,  kolestrol  HDL,  merokok,  tekanan darah sistolik, riwayat keluarga ateroklerosis prematur, diabetes, dan kadar trigliserida

3.     Risiko SCORE : Pemeriksaan  berdasarkan  usia,  jenis kelamin, kadar kolesterol total, sistolik nilai tekanan  darah  dan  status  merokok  para pasien.  Para  pasien  dikategorikan  sebagai <1%,   2-4%   dan   >5%,   masing-masing; rendah,  sedang  dan  tinggi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

EDUKASI PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK)

  A.     PENGERTIAN Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyakit gangguan jantung dan pembuluh darah, dimana terjadi penebalan pada...